Batik Warna Alam – Klasik nan Elegan

Berabad lamanya, penggunaan bahan pewarna alami sudah dikenal pembatik di Indonesia. Keragaman hayati Indonesia menyediakan banyak bahan-bahan pewarna yang tersedia di alam – murah dan mudah di dapat. Keahlian untuk mengolah bahan pewarna alam dikembangkan secara tradisional dan diturunkan dari generasi ke generasi.

PhotoGrid_1453213806128Diperkenalkannya bahan pewarna kimia/sintetis [mungkin pada era kolonialisme], menarik minat pembatik karena bahan pewarna kimia memberikan pilihan warna yang lebih beragam dan warna yang lebih terang dibandingkan menggunakan pewarna alam. Proses pewarnaan juga menjadi lebih singkat dan lebih murah dengan pewarna kimia.

Dalam beberapa tahun belakangan ini, tren penggunaan bahan baku pewarna alam kembali marak di kalangan para pembatik. Meski beberapa bahan pewarna kimia memenuhi standar industri untuk digunakan, tapi jika tidak diiringi dengan sistem pengolahan limbah kimia yang layak, pencemaran sungai tidak bisa dihindari. Semangat green environment tidak hanya didukung oleh banyak pembatik, tapi demand untuk produk-produk ramah lingkungan juga makin tinggi – termasuk untuk batik.

Secara tradisional penggunaan bahan pewarna alam sebenarnya masih banyak digunakan, meski jika dibandingkan dengan penggunaan bahan pewarna kimia jumlahnya lebih sedikit.

Penggunaan bahan pewarna alam juga lebih banyak terbatas untuk menciptakan warna-warna klasik khas tradisional, seperti warna coklat kemerahan di daerah Yogyakarta dan Solo.

Warna tradisional “coklat kemerahan” itu disebut “sogan” atau “sogo”, asal katanya dari “kayu sogo” [Copperpod, Golden Flamboyant, Yellow Flame Tree – Peltophorum pterocarpum].

Selain sogo, banyak tanaman yang secara turun temurun sudah digunakan sebagai bahan baku pewarna alam, misalnya:

  • Mahoni [Big leaf mahogany wood – Swietenia macrophylla], kayunya untuk menghasilkan warna coklat kemerahan
  • Nila / Tarum / Indigo [Indigo leaves –  Indigofera tinctoria], daun dan batangnya untuk menghasilkankan warna biru indigo.
  • Mangga [Mango leaves – Mangifera indica], kulit kayu dan daunnya untuk menciptakan warna hijau kekuningan.
  • Kayu secang [Sappanwood – Caesalpinia Sappan], kulit kayunya untuk menghasilkan warna maroon.
  • Soga tingi [Compound Cymed Mangrove – Ceriops candolleana arn], kulit kayunya untuk menghasilkan warna merah.
  • Jalawe [Beleric Myrobalan – Terminalia bellerica ROXB], kulit kayunya untuk menghasilkan warna hitam.
  • Tegeran [Maclura – Cudrania Javanensis], kulit dan kayunya untuk menghasilkan warna kuning.
  • Kunyit [Curcuma domestica val], akar rimpangnya untuk menghasilkan warna kuning
  • Bawang merah [Allium ascalonicium L] untuk menghasilkan warna jingga kecoklatan
  • Putri malu [Mimosa Pudica], bunga dan daunnya untuk menghasilkan warna kuning kehijau-hijauan.
  • Kelapa [Cocos nucifera], serabutnya untuk menghasilkan warna krem kecoklat-coklatan.
  • Pace / mengkudu [Morinda citrifolia], akar pohonnya untuk menghasilkan warna merah
PhotoGrid_1453217762039

Beragam bahan alami untuk pewarna batik

Proses pewarnaan batik dengan menggunakan bahan pewarna alam memang secara rata-rata memang lebih lama dibandingkan menggunakan bahan pewarna kimia. Proses pewarnaannya juga hanya bisa dilakukan dengan pencelupan, tidak bisa diaplikasikan dengan teknik warna colet.

Proses pencelupan harus diulang beberapa kali untuk mendapatkan tingkat kecerahan warna yang diinginkan. Jika misalnya pewarnaan dengan bahan kimia hanya memerlukan 1 kali pencelupan untuk satu warna, pencelupan dengan bahan pewarna alam bisa harus dilakukan 5-10 kali berulang-ulang.

Ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sinar matahari untuk proses pengeringan yang sempurna sebelum melakukan pencelupan selanjutnya. Pencelupan yang berulang-ulang juga lebih beresiko untuk terjadinya malam yang pecah.

Makanya, biasanya batik dengan pewarna alam hanya menggunakan 1-2 warna saja – tidak seceria warna-warni batik dengan pewarna kimia. Tapi efek yang ditampilkan akan jauh berbeda – kesan calm, warm, bahkan elegant selalu terpancar dari batik-batik warna alam ini.

Salam, Kepulauan Batik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s