Batik Remekan khas Desa Bakaran

Desa Bakaran terletak dekat kota kecil Juwana, kabupaten Pati, Jawa Tengah. Untuk menuju kota Pati dapat ditempuh dengan jalan darat dari Semarang, ke arah timur melewati kota Demak dan Kudus. Perjalanan menempuh jarak kurang-lebih 82 km. Dari kota Pati, perjalanan dilanjutkan ke arah timur menuju kota Juwana yang berjarak kurang lebih 14 km.

Desa Bakaran terkenal dengan batik khasnya yang tidak bisa ditemukan di daerah lain, yaitu Batik Bakaran. Teknik unik yang digunakan dalam pembuatan batik Bakaran ini adalah dengan melakukan “peremukan” pada mori (kain batik) yang sudah digambar dengan malam (wax) sebelum dicelup warna.

Malam yang pecah-pecah karena diremukkan menghasilkan motif abstrak berupa serabut-serabut halus sebagai latar belakang kain.

 

Jika pada pembuatan batik di daerah lain, seperti di Yogya, Solo, Pekalongan, malam yang pecah-pecah ini dianggap sebagai proses yang gagal (biasa terjadi dalam proses pencelupan) – bagi batik Bakaran motif serabut halus yang dihasilkannya justru menjadi daya pikat utama.

Secara tradisional, batik dari desa Bakaran hanya menggunakan warna hitam, coklat dan putih. Tapi dalam perkembangannya, pembatik banyak menggunakan warna-warna (terutama warna-warna primer) untuk batik mereka.

Pembatik di desa Bakaran menjaga tradisi mereka untuk hanya menggunakan teknik canting (batik tulis) untuk membuat bati mereka. Tidak pernah menggunakan cap, apalagi dengan teknik print.

Sejarah yang diceritakan secara turun-temurun, menceritakan asal-usul nama desa Bakaran.

Alkisah di abad ke-14 pada masa Kerajaan Majapahit, hidup seorang abdi kerajaan bernama Nyi Banoewati, yang bertugas sebagai penjahit untuk prajurit-prajurit kerajaan. Dalam masa perang antara Kerajaan Majapahit (bergama Hindu) dengan Kerajaan Demak (kerajaan Islam baru di Jawa pada masa itu), Nyi Banoewati melarikan diri dari wilayah Majapahir karena dia beralih memeluk agama Islam – yang dilarang pada masa itu.

Nyi Banoewati melarikan diri menelusuri pantai utara Jawa bersama 3 saudara laki-lakinya, dan akhirnya berhenti di daerah berawa-rawa antara Jawa Barat dan Jawa Timur. Bersama ketiga saudaranya, Nyi Banoewati memutuskan untuk menetap di daerah tersebut, tetapi mereka bertengkar untuk mendapatkan lahan yang paling besar.

Tentu saja saudara-saudara laki-lakinya bisa membuka lahan yang lebih besar sedangkan Nyi Banoewati hanya kebagian lahan yang paling kecil. Nyi Banoewati memohon kepada saudara-saudaranya untuk memberikan sebagian lahan mereka.

Diputuskan bahwa Nyi Banoewati akan diberi sepotong lahan dengan cara membakar rawa-rawa tersebut, dan akan mendapatkan lahan sejauh mana abu pembakaran rawa terbang tertiup angin.

Angin yang berhembus cukup kencang, akhirnya memberikan Nyi Banoewati lahan yang besar. Sepotong lahan yang akhirnya dimiliki oleh Nyi Banoewati kemudian diberi nama “Bakaran”.

Nyi Banoewati tinggal di desa “Bakaran” tersebut, dan mengajarkan penduduk yang tinggal di area sekitar tempat tinggalnya bagaimana cara membuat batik – cara pembuatan yang dipelajarinya ketika bekerja sebagai abdi di Kerajaan Majapahit. Nyi Banoewati kemudian juga menciptakan beberapa motif-motif baru khas batik Bakaran dengan teknik “peremukan malam”-nya.

Salam, Kepulauan Batik

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s