“Kawuningono Uwong Urip Kuwi Ono Kang Nguripake”

Sebagai pencinta bentuk-bentuk simetris, batik motif kawung adalah salah satu favorit saya. Motif terbentuk dari susunan bentuk geometris bulat lonjong / elips yang diatur secara diagonal kiri-kanan, berpusat pada satu lingkaran. Pada bagian tengah bentuk elips tersebut biasa dibubuhkan tanda titik atau silang – 2 atau 3 buah.

Ada yang menyebutkan bahwa kata “kawung” berasal dari bentuk buah pohon kawung / aren (atau yang lebih dikenal dengan nama kolang-kaling / buah atap – arengan pinnata), yang jika dipotong melintang memang seperti pola batik kawung. Ada juga yang menyebutkan bahwa nama motif ini diambil dari nama serangga kwangwung (kumbang tanduk – oryctes rhinoceros) yang badannya memang berbentuk bulat lonjong.

Dalam filosofi Jawa, kata kawung sendiri merupakan singkatan dari kalimat “kawuningono uwong urip kuwi ono kang nguripake“, yang artinya, “Mengertilah bahwa orang hidup itu ada yang menghidupkan”. Motif ini memang melambangkan harapan agar dalam kehidupannya, manusia selalu ingat kepada Tuhan.

Bentukan motif kawung ini terdiri dari 4 bentuk geometris elips yang menyatu pada 1 titik tengah – menggambarkan “sangkan paraning dumadi” atau asal mula kehidupan manusia.

Keempat bentuk geometris elips tersebut menggambarkan 4 unsur kehidupan, yaitu:

  1. Unsur BUMI, yaitu sifat angkara murka yang harus dikendalikan untuk meraih kehidupan yang sentosa
  2. Unsur GENI / API, yang jika tidak dikendalikan akan menjadi watak amarah, tetapi bila dikendalikan akan menjadi watak pemberi dan sifat kepahlawanan.
  3. Unsur BANYU / AIR, yang bisa tidak dikembalikan akan membawa sifat pembohong, tetapi bila dikendalikan akan menjadi sifat jujur dan kesatria.
  4. Unsur MARUTA / UDARA, yang jika dikembangkan akan menjadi sifat adil dan berperikemanusiaan.

Sedangkan  satu titik bulat di tengah yang menyatukan keempat unsur tersebut menunjukkan jati diri manusia yang disebut kasampurnaning dumadi – kesempurnaan hidup dengan 4 unsur yang harus seimbang. Titik di tengah juga melambangkan hati nurani manusia sebagai pusat pengendali nafsu.

Motif batik Kawung merupakan salah satu dari 8 motif larangan (parang, parang rusak, cemukiran, sawat, udan liris, semen, dan alas-alasan), yang sudah ditemui pada ukiran dinding beberapa candi di Jawa, seperti Prambanan. Diyakini motif kawung sudah muncul sejak abad ke-13.

Ada beberapa macam varian motif kawung, seperti kawung picis (biasanya berukuran kecil dan lancip di kedua ujungnya – diambil dari nama uang pecahan 10 sen), kawung bribil (dari nama uang pecahan 25 sen), kawung sen (dari nama pecahan uang 1 sen), kawung beton (karenanya bentuk elipsnya yang menyerupai biji nangka – jika berukuran besar disebut kawung beton ageng, dan ukuran yang lebih kecil disebut kawung beton alit), atau kawung kembang.

Beragam filosofi yang tinggi tersirat dari bentuk motif kawung ini.

  • Buah kolang-kaling yang berwarna putih tersembunyi di balik kulit yang keras diartikan bahwa kebaikan hati kita tidak perlu diketahui oleh orang lain.
  • Pohon aren juga berguna dari ujung daun sampai ujung akar, yang diartikan bahwa manusia itu hidupnya harus berguna bagi siapa saja.

Bagi mereka yang memakai batik motif kawung ini, diharapkan agar menjadi manusia yang baik dan menjadikan hidupnya penuh makna, tidak hanya bagi diri sendiri, tapi juga bagi orang lain dan lingkungan sekitarnya.

Salam, Kepulauan Batik

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s