Udan Liris Pembawa Berkah

Hujan dianggap sebagai pembawa berkah kehidupan. Deras atau gerimis, kehadiran hujan dinanti dengan gembira. Tak heran jika kehadirannya sebaiknya diiringi dengan doa pengharapan akan berkah yang diturunkan oleh Yang Maha Kuasa.

Dalam pakem batik Yogya dan Solo, dikenal motif batik yang menggambarkan hujan, disebut motif udan liris.

Batik motif udan liris ini adalah termasuk kategori motif lereng, yaitu motif dengan bentuk dasar garis-garis diagonal sejajar. Udan liris juga diartikan sebagai “hujan gerimis” atau “hujan rintik-rintik” – yang merupakan simbol kesuburan, kesejahteraan dan rahmat dari Tuhan.

 

Motif udan liris sendiri merupakan gabungan dari berbagai motif dalam ukuran kecil yang disusun rapat mengikuti garis-garis diagonal dengan latar belakang berwarna putih.

Biasanya paling tidak terdiri dari 7 motif batik dalam ukuran kecil, diantaranya: (1) lidah api yang melambangkan ambisi, (2) setengah kawung yang melambangkan sesuatu yang berguna, (3) banji sawit yang melambangkan kebahagiaan dan kesuburan, (4) mlinjon yang melambangkan kehidupan (5) tritis yang melambangkan ketabahan hati (6) ada-ada yang melambangkan adanya keperkasaan, dan (7) watu walang yang melambangkan kesinambungan

Motif-motif tersebut disusun rapat melambangkan permintaan doa untuk mendapatkan berkah dari Tuhan.

PhotoGrid_1454332703827

Selain itu, motif udan liris juga melambangkan ketabahan – diharapkan orang yang memakainya tabah dalam menjalani hidup prihatin – seperti janji suami istri yang setia dalam susah dan senang. Tak pelak, motif udan liris banyak dipakai oleh tamu-tamu yang diundang ke acara perkawinan sebagai doa bagi pengantin baru agar dapat menjalani hidup berumah tangga yang banyak halangan dan cobaan.

Sebenarnya dahulu batik ini termasuk ke dalam beberapa motif batik “larangan” – yaitu motif batik yang dilarang untuk digunakan oleh orang-orang di luar lingkungan keraton Yogyakarta dan Surakarta. Motif ini hanya boleh dipakai oleh keluarga kerajaan. Namun sekarang larangan tersebut sudah tidak berlaku lagi, dan siapa saja diperbolehkan mengenakan batik motif udan liris ini.

Motif Udan Liris ini merupakan motif yang usianya sudah sangat tua. Diperkirakan motif ini diciptakan sekitar abad XVIII oleh Sultan Pakubuwono III. Kala itu, Sultan Pakubowono III sedang melakukan ritual mati raga (laku teteki) dengan berendam di sungai. Saat menjalani ritual tersebut, tiba-tiba terjadi hujan gerimis yang mengilhami Sultan untuk menciptakan motif udan liris ini.

Salam, Kepulauan Batik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s