Pengaruh Jepang dalam Batik “Jawa Hokokai”

Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, kita mengenal organisasi “Jawa Hokokai” (Himpunan Kebaktian Rakjat Djawa), yaitu perkumpulan yang dibentuk oleh imperialis Jepang pada tanggal 1 Maret 1944, sebagai pengganti organisasi Putera. Jawa Hokokai meerupakan organisasi resmi pemerintah yang berada di bawah pengawasan pejabat Jepang. Berdirinya organisasi ini sebagai pelaksana pengerahan / mobilisasi barang yang berguna untuk kepentingan perang.

Sejarah batik Indonesia yang memang tidak terlepas dari sejarah bangsa juga melahirkan satu masterpiece batik yang dikenal dengan batik Jawa Hokokai (atau yang lebih sering disebut batik Hokokai saja).

PhotoGrid_1453693809648

Nama Hokokai memang diambil dari nama organisasi tersebut yang menunjukkan adanya pengaruh budaya Jepang pada pola dan warna jenis batik baru di zaman itu. Pada masa itu, pemerintah Jepang banyak memesan batik kepada pengusaha batik Indo-Eropa, Indo-Arab, atau Peranakan Tionghoa di Pekalongan yang memang terkenal dengan kehalusan batikannya. Batik-batik pesanan Jepang tersebut dijadikan sebagai hadiah untuk orang-orang Indonesia yang berjasa pada pemerintah Jepang.

Beberapa ciri khas batik Hokokai antara lain:

  • Adanya pola “frame” yang biasa disebut “susimoyo” – yaitu ragam hias bunga yang diatur sebagai pola pinggiran – ada yang memanjang di sisi bawah dari kiri ke kanan, atau di 3 sisi kain, yaitu sisi kiri, bawah dan kanan. Susunan seperti ini adalah adaptasi dari ragam hias kimono Jepang.
  • Ragam hias menggunakan motif-motif bunga sakura, krisan, dahlia dan anggrek (jenis bunga-bunga yang disukai oleh Jepang) dalam bentuk buketan / lung-lungan yang berulang-ulang, yang merupakan adaptasi dari motif buketan semarang.
  • Ragam hias tambahan berupa kupu-kupu (pengaruh Tionghoa yang merupakan lambang cinta abadi seperti dalam legenda Sampek Engtay), atau gambar burung yang selalu menggunakan burung merak yang memiliki arti keagungan.
  • Latar belakang (isen-isen) yang penuh dan padat di bagian tengah kain dengan menggunakan motif-motif keraton, seperti kawung dan parang.
  • Menggunakan banyak variasi warna yang cerah.
  • Pada masa ini jenis batik pagi-sore juga banyak digunakan dalam batik Hokokai.

Ragam hias yang sangat padat pada jenis batik Hokokai juga menggambarkan situasi saat itu, dimana keteresediaan kain terbatas karena harganya yang mahal, sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan ragam hias yang padat.

Dalam perkembangannya, pola batik hokokai juga diadaptasi oleh daerah-daerah lain – karena tingginya minat untuk jenis batik motif ini. Beberapa tahun belakangan ini, pengrajin-pengrajin batik di daerah lain mengadaptasi pola-pola batik hokokai dengan ragam motif daerahnya, seperti hokokai ala Cirebon, hokokai ala Pamekasan Madura, hokokai ala Solo, dll.

Hokokai ala Pamekasan, Madura

Hokokai ala Cirebon

Hokokai ala Solo

Salam, Kepulauan Batik

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s