Parang – Motif Batik Paling Maskulin

Salah satu motif batik favorit saya adalah motif “Parang”. Satu aturan untuk menjahitnya menjadi kemeja adalah motifnya harus bertemu di bagian depan – dan hanya penjahit-penjahit yang sudah berpengalaman untuk menjahit batik yang bisa melakukannya.

Pada dasarnya motif parang berbentuk huruf “S” sederhana yang berpelintir saling berkaitan satu sama lain secara berkesinambungan dalam pola diagonal. “Parang” berasal dari bahasa Jawa “pereng” yang artinya lereng / diagonal.

Bentuk huruf S yang berpelintir saling berkaitan satu sama lain melambangkan kesinambungan, sedangkan huruf S-nya sendiri diambil dari bentuk ombak di lautan yang mewakili semangat yang tidak pernah putus.

Motif parang sendiri merupakan salah satu motif larangan, artinya hanya keluarga kerajaaan atau orang-orang VIP dari strata sosial atas yang boleh menggunakannya. Dahulu, parang misalnya dikenakan ketika pejabat kerajaan datang menghadap raja untuk membawa berita gembira, atau dikenakan oleh jenderal perang kerajaan ketika pulang dari medan peperangan membawa berita kemenangan.

Filosofi batik parang adalah “pantang menyerah seperti ombak di lautan yang tidak pernah berhenti berhempas”. Batik ini mewakili semangat pantang menyerah, semangat yang harus dimiliki oleh orang yang sedang berjuang menjadi orang yang lebih baik, berusaha mencapai kesejahteraan. Parang juga mewakili kepintaran dan kepemimpinan – sehingga saat ini motif parang baik untuk digunakan dalam perayaan-perayaan, seperti upacara kelulusan, pemberian anugerah, pemenangan event, dan sebagainya.

Sebaliknya, batik Parang tabu untuk digunakan dalam acara perkawinan, khususnya bila digunakan sebagai busana pengantin – karena dipercaya akan membawa kesialan bagi pengantin. Dipercaya jika mengenakan batik Parang sebagai busana pengantin akan menyebabkan pasangan tersebut akan sering mengalami pertengkaran di masa mendatang. Sebagai gantinya, disarankan untuk mengenakan motif-motif lain yang melambangkan kesejahteraan dan kebijakan seperti motif “truntum”, “kawung”, “sidomukti”, “sidoluhur”, dan sebagainya.

Motif Parang banyak variasinya – mulai dari yang disebut dengan “Parang Rusak”, “Parang Barong”, “Parang Barong Rusak”, “Parangkusumo”, “Parang Pamor”, Parang Klithik”, “Parang Curigo”, “Parang Slobog”, dan sebagainya.

Motif “PARANG RUSAK” merupakan hasil ciptaan Panembahan Senopati (tidak diketahui tahun kelahirannya – meninggal 1601). Beliau adalah raja pertama kerajaan Mataram di Jawa yang memimpin pada periode tahun 1587 – 1601. Motif ini terinspirasi dari ombak yang tidak pernah berhenti menghantam batu karang – melambangkan jiwa manusia melawan kejahatan dengan mengendalikan diri sehingga memiliki watak mulia yang bijaksana

Sedangkan motif “PARANG BARONG” diciptakan oleh Sultan Agung Hanyakrakusuma (hidup pada tahun 1593 – 1654). Beliau adalah raja ketiga kerajaan Mataram yang berkuasa pada periode tahun 1613 – 1645.  Motif ini memiliki makna pengendalian diri yang terus-menerus, kebijaksanaan dalam perilaku, dan kehati-hatian dalam bertindak.

“PARANG KLITHIK” adalah motif parang yang ukurannya lebih kecil dan halus dan menggambarkan citra feminim. Motif ini melambangkan kelemah-lembutan, perilaku halus dan bijaksana. Biasa dikenakan oleh para puteri raja – cocok untuk dikenakan oleh wanita masa kini.

Salam, Kepulauan Batik

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s