Cap atau Tulis?

Suatu saat seorang sahabat meminta saya untuk menemaninya membeli kain batik di Thamrin City. Pusat Batik Nusantara yang berada di lantai dasar 1, lantai dasar, dan lantai 1 (sisi barat) pusat perbelanjaan Thamrin City di seputaran Bundaran HI – Jakarta, memang seperti surga kecil bagi penikmat batik.

Puluhan toko dan lapak menawarkan berbagai pilihan batik: dari Yogya, Solo, Madura, Pekalonga, Cirebon – dari batik tulis, batik cap, atau tekstil bermotif batik [a.k.a. yang biasa orang sebut batik printing] – dari yang harganya hanya 50 ribuan sampai sejuta lebih – dari kain panjang, sarung, sampai busana jadi.

Tinggal pilih.

Masalahnya kata teman saya tadi, “Bagaimana cara memilihnya? Yang bagus seperti apa? Bagaimana membedakan mana yang tulis dan mana yang cap?”

Jadi…. “yang bagus seperti apa?”. Untuk batik, pilihannya cuma 4: cukup bagus, bagus, bagus banget, sayang-banget-kalau-dijadikan-baju-jadi-disimpan-aja-buat-koleksi-buat-dikagumi. Jadi, selama itu batik, kenakanlah dengan bangga karena batik itu bagus.

Lalu, “bagaimana membedakan mana yang tulis dan mana yang cap?”. Nah, di sini baru menjadi pe-er. Jadi, mari kita berkenalan dulu.

Pada dasarnya, batik dapat dibedakan menjadi 2 jenis berdasarkan cara pembuatannya. Pertama batik tulis, kedua batik cap.

Batik Tulis.

Seperti namanya, batik tulis disebut batik tulis karena proses penggambaran motif dengan malam dilakukan dengan cara ditulis. Alatnya disebut canting, yang ujungnya berlubang kecil untuk mengeluarkan cairan malam panas untuk menggambar motif batik pada selembar kain putih.

Proses untuk mengerjakan batik tulis relatif lama, bisa dalam hitungan bulan bahkan ada jenis batik yang bisa dikerjakan dalam waktu setahun seperti batik gentongan dari Madura karena proses pewarnaannya yang lama.

Beberapa cara praktis untuk mengenali batik tulis adalah:

  1. Motif yang satu dengan yang lain tidak bisa sama persis. Meskipun motif batik terlebih dulu digambar di selembar kain, tetapi dalam proses pencantingan malamnya, lumrah jika terjadi ketidakmiripan – yang sebenarnya justru membuat ketidaksempurnaan batik tulis menjadi unik karena hanya ada satu di dunia ini. Katanya, inilah sebabnya mengapa semua pembatik tulis adalah perempuan, karena dibutuhkan kesabaran dan ketekunan yang tinggi untuk membatik tulis yang hanya dimiliki oleh perempuan. Semakin berpengalaman seorang pembatik, semakin tinggi tingkat kemiripan motif-motif batikannya. Bahkan, katanya emosi di dalam diri pembatik berpengaruh pada kualitas batikannya saat itu.
  2. Jika dicium, samar-samar akan tercium bau khas malam yang digunakan, karena meskipun batik sudah dicuci dan dibersihkan, tetapi bau malam yang khas dan menyengat biasanya masih akan tercium. Ini juga menjadi alasan mengapa batik harus disimpan dengan benar agar dijauhkan dari ngengat yang akan memakan sisa-sisa malam yang kadang masih melekat dan membuat kain batik menjadi bolong-bolong.
  3. Kebanyakan batik tulis dicanting dua kali – bolak-balik di setiap sisi. Hal ini menyebabkan motif depan belakangnya sama detailnya dan susah dibedakan. Ketika batik yang dicanting 2 kali dicelup, warnanya akan sama kuatnya antara bagian depan dan belakang. Tetapi memang tidak semua batik tulis dicanting 2 kali – jika demikian kada emungkinan bagian belakangnya akan berwarna sedikit lebih tipis dibandingkan bagian depannya. Meski hal ini juga sulit untuk dibedakan – karena toh ketika dicelup, cairan warna akan tembus dari depan ke belakang.
  4. Pastinya harganya akan relatif lebih mahal dibandinkan batik cap. Secara rata-rata, harga minimum batik tulis harusnya bisa 2-3 kali lebih mahal dibandingkan batik cap, hal ini dikarenakan karena proses pembuatannya yang lama. Jadi, lebih baik jangan menawar batik tulis terlalu murah – tidak hanya karena menghargai batik itu sendiri, tapi rasanya penghargaan yang tinggi layak kita berikan untuk perempuan-perempuan pembatik yang menjadi tonggak utama untuk melestarikan budaya batik negeri kita.

Batik Cap

Sejarah menyebutkan bahwa teknik pembatikan dengan menggunakan cap / stempel mulai dikenal pada pertangahan abad 19. Kala itu permintaan akan batik yang harganya lebih murah lebih banyak, sehingga pengrajin batik memikirkan cara untuk membuat pola malam di atas kain mori dengan lebih cepat.

Cap batik dibuat dari bahan tembaga (kadang dicampur dengan besi) dengan membentuk motif-motif berulang dalam ukuran cukup besar, biasanya 20×20 cm. Cap batik kemudian dicelupkan dalam cairan malam panas sekitar 2 cm, lalu dicapkan di atas kain mori putih. Pola-pola berulang disusun rapi memenuhi kain mori untuk kemudian diberi warna dengan pencelupan.

Hadirnya batk cap memasukkan laki-laki sebagai pekerja pembatikan. Jika sebelumnya dalam proses batik tulis laki-laki lebih banyak terlibat pada proses desain motif, penggambaran motif di kain mori, atau pewarnaan, batik cap biasanya dikerjakan oleh laki-laki. Keahlian yang dibutuhkan berupa tingkat presisi yang tinggi serta tenaga besar dalam melakukan pengecapan menyebabkan proses pengecapan ini dilakukan oleh laki-laki.

Bagaimana mengenali batik cap?

  1. Perhatikan bahwa batik cap selalu menggunakan pola-pola motif yang berulang, karena biasanya menggunakan 1 atau 2 motif cap yang sama secara berulang-ulang. Jika diteliti dengan seksama, kadang bisa dilihat kira-kira bagaimana bentuk dasar polanya karena jika pengecapan sedikit saja bergeser akan kelihatan sambungan polanya. Perlu diingat juga, tidak semua batik dengan pola berulang pasti batik cap, karena motif-motif keraton (seperti parang, truntum, kawung) juga merupakan motif berulang.
  2. Kebanyakan batik cap menggunakan 1 warna. Jika batik cap menggunakan lebih dari 1 warna bisa dilihat kadang ada warna-warna yang bertumpuk. Pada proses cap, jika ingin menambahkan warna kedua, batik cap yang sudah diwarna akan dicap lagi di atasnya untuk diberi warna kedua, warna yang pertama tidak ditutupi lagi (istilahnya “ditemboki”) dengan malam. Hal ini menyebabkan warna kedua akan berada di atas warna pertama. Berbeda dengan batik tulis, untuk memberi pewarnaan ke-2, ke-3 dan seterusnya, motif yang sudah diberi warna sebelumnya akan ditutupi (ditemboki) dengan malam, sehingga celupan warna kedua tidak akan meresap ke warna pertama.
  3. Proses pembuatannya yang cepat (2-3 hari, bandingkan dengan batik tulis yang dibuat dalam hitungan bulan), harga batik cap menjadi lebih terjangkau dibandingkan batik tulis.

Lalu, bagaimana dengan batik printing?

Hmm….. maaf, printing bukan batik 🙂

Salam, Kepulauan Batik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s