Cinta Abadi “Tumaruntum” dalam Batik Truntum

Sri Susuhunan Pakubuwana III (1732 – 1788) adalah raja kedua Kasunanan Surakarta yang memerintah pada periode 1749 – 1788. Pada masa pemerintahan Pakubuwana III ini lah Kasunanan Surakarta pecah menjadi 2 sebagai akibat pemberontakan yang dilakukan oleh Pangeran Mangkubumi. Ditandai dengan Perjanjian Giyanti tanggal 15 Februari 1755, Pangeran Mangkubumi diakui berdaulat atas separoh wilayah Pakubuwana III – yang kemudian bergelar Hamengkubuwono I dan memipin wilayah yang kemudian dikenal dengan nama Kasunanan Yogyakarta. Sedangkan wilayah Pakubuwana III yang tinggal separuh, kemudian dikenal dengan nama Kasunanan Surakarta.

Pada masa pemerintahan Pakubuwana III ini juga dikisahkan satu motif batik klasik tercipta, yaitu motif Truntum.

Dikisahkan istri Pakubuwana III, yaitu permaisuri Kanjeng Ratu Kencana, tidak mampu memberikan keturunan bagi sang raja, sehingga sang raja berniat untuk menikah lagi. Dalam kesedihannya, Kanjeng Ratu Kencana hanya bisa merenungi nasibnya, termenung bermalam-malam, memandang langit kelam penuh bintang.

Kanjeng Ratu Kencana membatik untuk mengusir kesedihan hatinya. Motif yang diciptakannya seperti taburan bintang-bintang yang gemerlap dalam gelapnya malam tanpa cahaya bulan. Motif ini menggambarkan suasana hati dan harapan Kanjeng Ratu Kencana, bahwa akan selalu ada kemudahan dan harapan dalam setiap kesulitan yang sedang dihadapi.

Ketekunan Kanjeng Ratu Kencana dalam menorehkan malam dalam motif kecil-kecil menutupi seluruh kain, pada akhirnya menarik minat sang Raja. Tanpa sadar, Pakubuwono III mengikuti perkembangan batik yang sedang dibuat istrinya, dan seiring waktu rasa cinta di hati sang Raja tumbuh dan berkembang kembali, atau “tumaruntum” kembali.

Batik ini kemudian diberi nama “truntum”, lambang cinta abadi, tulus tanpa syarat, dan semakin lama semakin berkembang (tumaruntum)

Dalam perkembangannya, Batik Truntum sering dipakai dalam upacara pernikahan. Motif ini dikenakan oleh orang tua pengantin sebagai pengharapan agar cinta kasih yang akan dibangun oleh kedua mempelai dalam bahtera pernikahan ini akan abadi.

Dengan mengenakan motif truntum ini, orang tua pengantin memberi tuntunan, contoh, tauladan bagi kedua mempelai untuk memelihara cinta abadi mereka.

Salam, Kepulauan Batik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s