Printing Bukan Batik #1

Suatu malam, saya menonton acara bincang-bincang di TV nasional mengenai batik Indonesia. Bahasan utama adalah mengenai ancaman masuknya “batik Cina” terhadap industri batik Indonesia.

Pembahasan yang menarik, tapi lebih menarik bagi saya adalah ketidaktahuan narasumber mengenai apa itu batik.

“Batik Cina” yang dirisaukan menjadi ancaman bagi industri batik Indonesia adalah “kain dengan motif batik yang diproduksi di pabrik dengan teknik printing”, dan printing bukan batik.

Baik itu produksi Cina, produksi pengrajin Indonesia, atau produksi pabrik-pabrik tekstil di Indonesia – masalahnya adalah, printing bukan batik. Jadi ketika dirisaukan bahwa “batik Cina” akan mengancam industri batik Indonesia, ada hal yang harus diluruskan: ancaman “batik Cina” adalah untuk industri “kain printing Indonesia”.

“Batik Printing” atau yang sebenarnya lebih tepat disebut “tekstil motif batik” adalah kain biasa yang dicetak sablon dengan tangan atau printing mesin dengan desain-desain motif-motif batik Indonesia.

Karena “batik adalah proses”, bukan sekedar motif, proses sablon / printing yang tidak menggunakan “malam” untuk menggambar motif-motif di atas kain tidak dikategorikan sebagai batik.

Tekstil motif batik diciptakan atas jawaban untuk kebutuhan kain batik dengan harga yang jauh lebih murah dan bisa diproses dengan waktu yang lebih cepat.

Harga batik (tulis / cap) memang mahal dan diproduksi terbatas dan dalam waktu yang cukup lama. Untuk kebutuhan-kebutuhan tertentu dalam jumlah yang banyak dan cepat, misalnya untuk seragam karyawan atau seragam sekolah, menggunakan batik tulis memang akan sangat mahal. Bahkan dengan batik cap pun, meskipun harganya lebih murah tapi proses pembuatannya memakan waktu tidak sebentar dengan tingkat keseragaman yang seringkali tidak bisa persis sama.

Tekstil motif batik hadir sebagai upaya untuk lebih memasalkan “batik” sehingga lebih terjangkau untuk semua kelas. Semua orang bisa “berbatik”, semua orang bisa menunjukkan kecintaannya pada budaya lokal dan turut menjadi bagian untuk melestarikan budaya.

PhotoGrid_1454940651468

Sayangnya, kecintaan yang kurang diiringi dengan pengetahuan yang benar. Tidak ada edukasi yang benar mengenai apa itu batik – hanya pengrajin-pengrajin batik yang sebenarnya dan pencinta-pencinta batik yang mencoba untuk menjelaskan apa itu batik. Dengan harapan, penghargaan terhadap “batik Indonesia” menjadi penghargaan yang benar – bukan bincang-bincang yang salah kaprah.

Tapi, apakah memang benar bahwa kehadiran “batik Cina” sama sekali tidak menjadi ancaman bagi “batik Indonesia”?

Pasti ada pengaruh tidak langsung dengan maraknya kehadiran “batik Cina” di Indonesia terhadap “batik Indonesia”. Ketidaktahuan mengenai apa itu batik, ketidakpahaman bahwa #printingbukanbatik, memang akan membuat para pembeli yang tidak tahu akan memilih kain-kain bermotif batik dengan harga yang murah dibandingkan batik yang lebih mahal.

Tapi jika diedukasi dengan benar, saya percaya, industri “batik Indonesia” akan tetap berkembang. Makin banyak orang-orang yang mengerti, makin ramai orang-orang yang menghargai, dan makin marak orang-orang berbangga dengan batik yang sebenarnya batik.

Setidaknya ketika ada yang membeli “batik printing”, mereka tahu dengan sadar bahwa yang dibeli bukan batik, dan akan mengatakan, “Oh, ini bukan batik kok… ini tekstil bermotif batik”.

Salam, Kepulauan Batik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s