Batik “Colet”

PhotoGrid_1456325445813Pernah melihat batik-batik dalam tampilan warna-warna yang sangat beragam, hampir seperti pelangi yang memiliki semua spektrum warna, dan membuat berpikir: “Bikinnya berapa lama ini?”

Bayangkan ketika sepotong kain yang sudah dicanting atau dicap dengan malam akan diberi warna, dicelup dalam cairan pewarna untuk satu warna saja, kemudian dijemur. Lalu proses cantingan harus diulang lagi untuk menutupi bagian motif lain yang mau diwarnai dengan warna berbeda.

Jika satu warna membutuhkan 1 proses pembatikan, lalu warna-warna pelangi apa dilakukan sebanyak 7 kali?

Ternyata tidak harus seperti itu. Dalam ragam teknik batik di Indonesia, dikenal teknik pewarnaan lain selain teknik celup, yang disebut teknik “colet”.

Teknik colet diperkirakan berkembang pada mulanya di daerah pesisiran seperti Pekalongan, yang memang terkenal dengan penggunaan warna-warna cerah, yang berbeda dengan batik Yogya-Solo yang terkenal dengan batik-batik warna klasik, seperti soga.

Diperkirakan teknik colet muncul seiring dengan penggunaan zat pewarna batik dari bahan kimia, yang memang jika di”colet”kan pada selembar kain putih, warnanya akan langsung melekat. Berbeda dengan zat pewarna alami yang membutuhkan proses pencelupan yang lama, perebusan, dan sebagainya untuk membuat zat pewarna alami tersebut meninggalkan warna yang diinginkan.

Teknik “colet”, seperti namanya memang dilakukan dengan menyapukan zat  warna (Jawa: mencolet) dengan kuas atau kapas (seperti cotton bud), atau kadang juga dilakukan dengan proses mencanting malam panas yang sudah diberi warna.

Proses pencoletan dilakukan dengan sangat sederhana. Pola-pola yang sudah digambar di atas selembar kain mori putih – apakah dengan cantik tulis atau dengan cap – menjadi kanvas yang siap diwarnai.

Pola yang dibentuk oleh coretan malam berfungsi sebagai pembatas warna, ketika kuas yang sudah dicelup zat warna disapukan di dalam pola tersebut, warna tidak “meleber” ke bagian lain karena dibatasi oleh malam tersebut.

Di sini, kehati-hatian dan ketekunan dari pembatik sangat dibutuhkan, agar ketika mereka sedang mencoletkan warna, tidak ada warna yang menetes, tidak ada warna yang keluar dari pola yang sedang diwarnai.

Kreatifitas pembatik juga menjadi tidak terbatas – belakangan teknik-teknik pencoletan warna yang lain juga dikenal, seperti teknik pewarnaan yang menyerupai teknik airbrush yang menghasilkan gradasi warna yang halus. Disini, pembatik tidak lagi hanya sekedar pembatik, tetapi mereka sebenarnya juga adalah seniman-seniman pelukis.

PhotoGrid_1456327944177

Diperkenalkannya teknik colet warna ini memang membuat khazanah batik Indonesia menjadi lebih berwarna, proses yang dibutuhkan untuk menghasilkan sepotong kain batik juga relatif lebih cepat (jika dibandingkan warna-warna tersebut dihasilkan dengan teknik celup), serta membuat harganya juga jadi semakin terjangkau.

Salam, Kepulauan Batik

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s