Tenun Songket Lombok

PhotoGrid_1457520197378(1) Lombok, pulau di sebelah timur pulau Bali, sering disebut-sebut memiliki kemiripan dengan Bali – baik dari segi keindahan alam maupun seni budaya. Seperti halnya Bali yang kaya dengan kerajinan kain tenunnya, di Lombok kerajinan menenun juga menjadi bagian dari penduduk asli Lombok, yaitu suku Sasak.

Pada dasarnya ada 2 jenis tenun yang berkembang di Lombok, yaitu tenun ikat di Lombok Timur dan tenun songket di Lombok Barat dan Lombok Tengah.

Keahlian menenun bagi suku Sasak Lombok merupakan keahlian yang dipelajari oleh anak perempuan sejak kecil, dan dahulu menjadi syarat sebelum anak perempuan diperbolehkan untuk menikah.

Tenun Songket Lombok saat ini banyak ditemukan di desa-desa yang merupakan sentra tenun songket Lombok, seperti desa Getap dan desa Sukadana di Lombok Barat, serta desa Ungga dan desa Sukarara di Lombok Tengah.

Berbeda dengan tenun-tenun songket yang ditemukan di daerah lain di Indonesia, terutama songket-songket yang berasal dari Melayu yang ditemukan di daerah Sumatera dan Kalimantan, songket Lombok tidak menggunakan benang emas atau perak tetapi sebagai gantinya menggunakan benang katun warna-warni sehingga memberi tampilan yang lebih semarak.

Penggunaan ragam hias dalam songket Lombok juga lebih padat / penuh menutupi semua bidang kain dibandingkan songket-songket Melayu yang ragam hiasnya relatif lebih jarang-jarang. Sebaliknya jika pada songket-songket Melayu sering ditemukan motif tumpal sebagai “kepala kain”, motif tumpal tidak ditemukan pada songket Lombok.

Songket Lombok saat ini merupakan jenis songket yang banyak digemari, menyusul makin terkenalnya songket Bali karena motif yang sekilas hampir mirip. Perbedaan yang cukup mencolok adalah pada songket Bali terkadang masih digunakan benang emas atau perak, kemudian kain hasil tenunan songket Lombok jika diraba sedikit lebih tebal dibandingkan songket Bali.

Berbagai motif kuno berkembang dalam khazanah songket Bali, meski saat ini disinyalir bahwa meski kebanyakan penenun tahu nama motif yang mereka tenun, tetapi tidak semuanya mengerti makna filosofi dari motif tersebut.

Motif “Subahnale”.

Motif Subahnale adalah salah satu motif kuno songket Lombok yang paling terkenal.

“Subhanallah” – Maha Suci Allah

Sebagai wilayah mayoritas menganut agama Islam, nama Subahnale mirip dengan pelafalan “Subhanallah” – kalimat yang konon kerap diucapkan oleh penenun ketika mengerjakan motif kuno yang luar biasa rumitnya, dan kalimat ini juga diucapkan oleh pemakainya ketika mengagumi hasil karya tenun yang indah ini.

Motif Subahnale adalah susunan geometris segi enam (menyerupai sarang lebah) yang ditengahnya diisi dengan hiasan bunga, seperti bunga remawa, kenanga, tanjung.

 Motif “Keker”

Motif Keker juga merupakan motif kuno songket Lombok, yang berasal dari desa Sukarare. Motif ini berupa burung merah yang berhadap-hadapan yang bernaung di bawah pohon.

Motif Keker ini melambangkan kebahagiaan dan kedamaian dalam memadu kasih – sehingga kadangkala disebut juga dengan motif “Bulan Madu”.

Motif-Motif Lainnya

Selain motif Subahnale & Keker yang merupakan motif kuno, masih banyak motif-motif lain yang digunakan dalam songket Lombok, seperti:

  • Motif Nanas (berbentuk buah nenas)
  • Motif Bulan Bergantung
  • Motif Bulan Berkurung
  • Motif Panah
  • Motif Wayang
  • Motif Bintang Remawe (corak kain kotak-kotak yang di dalamnya diisi dengan ragam hias bunga remawe)
  • Motif Pucuk Rebung

Salam, Kepulauan Tenun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s