Tenun Mbojo, Bima

PhotoGrid_1457520249801Kabupaten Bima yang terletak di ujung timur pulau Sumbawa, Nusa Tenggara Barat adalah salah satu kerajaan dari banyak kerajaan yang pernah berdiri di wilayah nusantara.

Dalam catatan sejarah yang dimiliki kesultanan Bima, yaitu Bo Sangaji Kai, Kerajaan Bima sudah berdiri sejak abad ke-14 M. Kala itu di Bima terdapat 5 kerajaan kecil yang disebut Ncuhi, tersebar di wilayah Bima tengah, utara, selatan, barat dan timur. Pada saat itu penduduk wilayah Bima menganut agama Hindu.

Dikisahkan bahwa ke-5 Ncuhi dipersatukan oleh utusan dari Jawa yang bernama Indra Zamrud. Indra Zamrud adalah anak dari Sang Bima yang adalah anak dari Maharaja Pandu Dewanata – seperti dalam kisah Mahabrata. Setelah mempersatukan ke-5 Ncuhi di pulau Sumbawa ini, Indra Zamrud memberi nama “Bima” kepada kerajaan baru tersebut, mengambil nama dari bapaknya Sang Bima.

Pada tanggal 5 Juli 1640, tercatat Kesultanan Bima memasuki era baru dengan dinobatkannya Sultan Abdul Kahir sebagai Sultan Bima I dan mulai menjalankan pemerintahan dengan syariat Islam. Sampai saat ini Kesultanan Bima masih berdiri, diperintah oleh Sultan Putra (Iskandar) Zulkarnain bin Sultan Abdul Khair II Muhammad Shah (2001 – sekarang)

PhotoGrid_1457367694900Salah satu seni budaya yang berkembang di Kesultanan Bima adalah kain tenun yang disebut “kainn Mbojo”, artinya kainnya orang Bima. Seperti halnya daerah-daerah lain di Nusa Tenggara, kain tenun berkembang secara turun temurun sebagai kain yang dipakai baik dalam busana sehari-hari ataupun dalam upacara adat.

Sebagai wilayah yang menjalankan syariat Islam dengan ketat, tenun Mbojo menggunakan ragam hias hanya geometis – seperti zig zag dan diagonal. Keunikan lainnya adalah tenun Mbojo ini menggunakan banyak warna dengan warna dasar hitam, biasanya minimal 3 warna sehingga tampilannya sangat ceria. Meskipun pada perkembangannya saat ini, desain kain Mbojo juga berkembang misalnya dengan hanya menggunakan 1-2 warna atau warna dasar lain seperti biru, putih, dan sebagainya.

Sebagaimana yang didapati di semua wilayah di Indonesia yang memiliki tradisi tenun, kegiatan menenun di Bima hanya dilakukan oleh kaum perempuan, dan menjadi keharusan bagi anak perempuan untuk bisa menenun sebelum menikah.

Keunikan lainnya dari tenun Mbojo ini adalah dalam proses pembuatannya, para penenun yang semuanya perempuan memiliki kebiasaan untuk menggunakan penutup kepala seperti hijab yang disebut “rimpu”. Perempuan yang belum menikah menggunakan rimpu yang hanya memperlihatkan mata (untuk menarik minat para lelaki), sedangkan perempuan yang sudah menikah boleh menggunakan rimpu yang memperlihatkan wajah.

Salam, Kepulauan Tenun

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s